Wah, udah di tahun 2004 neh, trus belum banyak perubahan yang berarti buat hidup aku. Tapi Insya Allah, masa studi aku berakhir, cari kerja juga di tahun 2004, menikah juga di tahun ini pula, hueheuehue

»

Tahukah Anda

Posted on: December 8, 2006 | comment (0)
Tags:

Dari milis…

taukah anda bahwa Ahli maksiat sibuk dgn maksiatnya
hingga lupa kepada Allah SWT
taukah anda bahwa Ahli khamar sibuk dgn khamarnya
hingga lupa kepada Allah SWT
taukah anda bahwa ahli sawah sibuk dgn sawahnya
hingga lupa kepada Allah SWT
taukah anda bahwa ahli niaga sibuk dgan perniagaannya
hingga lupa kepada Allah SWT
taukah anda bahwa ahli pemerintahan sibuk dgn perintah perintahnya
hingga lupa kepada Allah SWT
taukah anda bahwa ahli keamanan sibuk mengamankan
hingga lupa kepada Allah SWT
taukah anda bahwa ahli komunikasi sibuk dgn lidahnya
hingga lupa kepada Allah SWT
taukah anda bahwa ahli pidato sibuk dgn mic nya
hingga lupa kepada Allah SWT
taukah anda bahwa ahli keuangan sibuk dgn kalkulatornya
hingga lupa kepada Allah SWT
taukah anda bahwa ahli karir sibuk mengejar karirnya
hingga lupa kepada Allah SWT
taukah anda bahwa ahli pengangguran sibuk dgn angan angannya
hingga lupa kepada Allah SWT
taukah anda bahwa ahli lukis sibuk dengan kuasnya
hingga lupa kepada Allah SWT

dan taukah anda…..

ahli zikir sibuk dengan zikirnya
hingga lupa kepada Allah SWT
ahli tafsir kitab sibuk menafsirkan
hingga lupa kepada Allah SWT
ahli fiqih sibuk mempertahankan fiqihnya
hingga lupa kepada Allah SWT
ahli da’wah sibuk dengan da’wahnya
hingga lupa kepada Allah SWT
ahli Qori sibuk dengan tenggorokannya
hingga lupa kepada Allah SWT
ahli sunnah sibuk menegakkan sunnah
hingga lupa kepada Allah SWT
ahli puasa sibuk dengan puasanya
hingga lupa kepada Allah SWT
ahli solat sibuk dengan solatnya
hingga lupa kepada Allah SWT

dan taukah anda..

barangsiapa yang melupakan dirinya maka melupakan Tuhannya
barang siapa yang tidak mengenal dirinya maka tidak mengenal tuhannya….

dan taukah anda…

bahwa Allah SWT tidak butuh anda…

Read also:
  • No related posts

Ketika Derita Mengabadikan Cinta

Posted on: November 12, 2006 | comment (0)
Tags: ,

Dari forward email teman, semoga dapat diambil hikmahnya:

“Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor dipersilahkan…”

Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo.
Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di televisi itu.

Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu…

Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu’ala Rasulillah, amma ba’du. Sebelumnya saya mohon ma’af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita…
Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya dan buanglah lumpurnya.

Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya. Tiga puluh tahun yang lalu …
Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan “Pasha” yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di Ma’adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik di negeri ini.

(More …)

Read also:
  • No related posts

Kisah paling /ter/the best sufi

Posted on: November 4, 2006 | comment (0)
Tags: ,

Dari sebuah milis

Alkisah …dalam sebuah rumah terdengar percakapan antara seorang anak yang merengek kepada ibunya yang sedang menjahit.
anak : bu kata pak ustadz kalo keluar rumah harus memakai jilbab , pakai jilbab bu yah..
ibunya menjawab : ga boleh..
anak : tapi bu kalo ga make jilbab nanti Allah SWT marah, pakai bu yah..
ibunya menjawab : ga boleh ..
sianak setengah menangis berkata : tapi bu aku mo make jilbab
ibunya menjawab : tetap ga boleh..
sianak sambil menangis berkata : pokoknya mo make jilbab..pake jilbab…pake jilbab
ibunya setengah marah berkata : jokooooo…. kamu ga boleh make jilbab..!!

( sufinya dimana ..:P hehehe)

(More …)

Read also:
  • No related posts

Mulia dan Hina, Kaya dan Miskin

Posted on: August 5, 2006 | comment (0)
Tags:

Dua pasang kata: mulia dan hina, kaya dan miskin selalu kita dengar. Dan biasanya kaya dipasangkan dengan mulia, miskin dipasangkan dengan hina. “Ya benar, memang kata-kata tersebut sangat cocok. Jika orang kaya, dia pasti mulia di hadapan manusia lain, tetapi jika dia miskin dia pasti seperti kelihatan orang yang terhina“. C’mon kamu pasti berpendapat serupa.

Padahal kenyataannya…
Semua manusia sangat fakir dan miskin di hadapan Allah. Jika pendapat kamu bahwa yang fakir atau miskin itu hina, berarti manusia itu sangat hina di hadapan Allah. Allah Pemilik Segala Kekayaan, dan kita hanya “dipinjam” kan sesuatu yang kita sendiri tidak mampu untuk memilikinya. Jiwa dan jasad kita pun kita tidak miliki sendiri apalagi harta benda, status sosial dan sebagainya. Tapi toh, banyak manusia yang selalu beranggapan lebih mulia dan terhormat dibanding orang lain karena dia memiliki “sedikit” kekayaan.
Mengapa saya katakan sedikit? Sedikit jika dibandingkan dengan Yang Mahakaya dan Yang Takterbatas. Pantaskah kamu membanggakan barang pinjaman?

Ah Anda terlalu berlebihan, harta kekayaan ini saya peroleh dengan susah payah. Semestinya harta ini menjadi milik saya dan pantas saya banggakan“. Memang benar harta itu diperoleh dengan susah payah, tapi siapa yang memberi? Siapa yang melapangkan urusanmu, siapa yang menggugah hati manusia lain untuk memberikan kepercayaan kepadamu agar berbisnis denganmu, siapa yang menurunkan hujan untuk menumbuhkan ladang dan sawahmu, siapa yang memberimu nafas dan air untuk menghapus dahaga saat mencari nafkah?

Banyak sekali pertanyaan namun kamu sepertinya diam. Mungkin kamu sudah berpikir. “Ya, semua ada yang memberi yaitu Allah“. Tidak patutkah kamu bersyukur? Jangan sampai kamu meremehkan orang karena dia fakir atau miskin. Belum tentu rezeki yang diberi oleh Allah itu semua milikmu. Ada sebagian milik orang lain yang dititipkan kepadamu dan kamu harus mengeluarkannya kepada yang berhak. Allah selalu melapangkan rezekimu, “menitipkan” rezeki agar disampaikan kepada orang tuamu, tetanggamu, kerabatmu, dan orang-orang yang tidak beruntung di antara kamu.
Ingatlah, jika orang yang miskin istiqamah, dia akan mudah masuk surga karena penderitaan karena kemiskinan itu sangat berat.

Kita ini sangat fakir dan miskin, kita hampir tiap saat memohon belas kasih Allah.
“Ya Allah Pemilik Segala Keagungan dan Kemuliaan, aku memohon kepada-Mu layaknya orang yang fakir, miskin dan hina. Hambamu ini mengetuk pintu-Mu, maka jangan Engkau usir aku. Ampunkanlah segala dosa-dosaku, dosa-dosa kedua orang tuaku, dosa-dosa kamu muslimin dan muslimat, mudahkan segala rezekiku, rezeki orang tuaku, rezeki saudara-saudaraku dan mudahkan segala urusanku. Hanya Engkau lah tempat bergantung semua makhluk dan hanya Engkaulah tempat kembali semua makhluk”.

Jika kita berdoa dengan merendahkan diri (dan memang kita sangat rendah di hadapan-Nya), niscaya Allah sangat mengasihani kita, karena sifatnya yang mulia, Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim.
Sekarang berbenahlah, jika rasa lebih mulia ketimbang orang lain sirna, pastilah sifat tawadhu (rendah hati) akan kita peroleh…

Read also:
  • No related posts

Makna Kata Abadi: Jangan Cinta Dunia!

Posted on: June 5, 2006 | comment (0)
Tags:

Abadi adalah kata yang sering diucapkan oleh orang untuk menyampaikan bahwa sesuatu itu tidak akan musnah, kekal, langgeng, tetap selamanya seperti itu kapan pun dan di mana pun. Banyak istilah seperti “cinta abadi“, “semoga cinta kita abadi“, “selamanya akan selalu bersama”, “hidup yang abadi“, “harta kekayaan yang abadi” (sering diartikan dengan harta yang tidak habis turun-temurun).

Banyak muda-mudi yang menggunakan kata-kata ini untuk “sekedar” menyenangkan hati pasangannya ada pula yang berharap bahwa kenikmatan yang mereka rasakan, entah itu kenikmatan syahwat?, harta, pangkat dan sebagainya tetap mereka rasakan selamanya.

Kadang dengan berpandangan seperti itu, kita seperti orang yang sangat bodoh, amat sangat bodoh malah. Mana ada yang kekal di dunia ini? Sepatutnya kata-kata “abadi”, “kekal”, “selamanya” hanya milik Allah semata. Semua selain Allah akan musnah. Kita selalu tertipu dengan dunia yang semakin hari semakin mempercantik dirinya. Kita selalu terlena dengan kesenangan sesaat di dunia sehingga lupa pada kesenangan “abadi” di kampung akhirat sana.

Tanya dalam hati kita masing-masing. Masih adakah rasa kecendrungan kepada dunia dan isinya? Masihkah kita selalu mengharap sesuatu yang akan musnah selama-lamanya? Masihkah kita selalu berlomba-lomba menggapai sesuatu yang nantinya kita tinggalkan? Masihkan kita menumpuk-numpuk harta yang nantinya jadi rebutan orang lain saat kita tinggalkan? Masihkah kita membangga-banggakan rumah yang megah yang nanti kita tidak huni selamanya? Dan masih banyak lagi..

Coba renungkan. Hati ibarat cermin. Jika di hadapannya sesuatu yang hina, akan tampak terus sesuatu yang hina. Jika di hadapannya sesuatu yang kotor, akan tampak terus sesuatu yang kotor. Tetapi bila di hadapannya adalah sesuatu yang bersih, maka cermin akan menampakkan sesuatu yang bersih.

Dunia ini hina karena Allah sudah menghinakannya. Mengapa kita tetap mencintai sesuatu yang dihinakan oleh Allah? Mengapa waktu/tenaga/air mata/tetes keringat habis hanya untuk mengejar sesuatu yang namanya dunia? Mengapa hati kita –yang ibaratnya– adalah cermin selalu berkaca pada dunia? Coba hitung: Andai jatah umur saya adalah 63 tahun. Saya bersusah payah meraih dunia sampai umur 40 tahun. saya menikmati hasil jerih payah saya dan kenikmatan dunia selama 23 tahun.

Dua puluh tiga tahun! Waktu yang amat sangat sedikit dibandingkan dengan waktu tak terhingga (infinity), dalam istilah matematika adalah disimbolkan dengan simbol ~. Waktu tak terhingga itu ada di akhirat dan tempat kembali kita hanya dua: surga atau neraka.
Sekarang tinggal pilih, menghabiskan waktu yang tak terhingga ini di surga atau di neraka?

Jangan mencintai dunia. Amalkan selalu doa Nabi SAW:
Ya Allah, jadikanlah rasa cintaku kepada-Mu melebihi rasa cinta kepada harta, keluarga dan air dingin

Mengapa harta dan keluarga? Karena harta (emas, perak, perdagangan, handphone canggih, mobil mewah, rumah bagus, you named it) dan keluarga (suami/istri, anak,orang tua, kerabat) ada “isi” dunia. Mengapa air dingin? Air adalah sumber kehidupan. Orang haus akan sangat mencintai air dingin, benar bukan?

Kita boleh mencintai suami/istri, anak-anak kita, orang tua kita, harta yang sudah kita usahakan, tapi jangan sampai hati kita cenderung padanya sampai kita berharap, hidup kita ini abadi di dunia sehingga bisa tetap merasakan nikmat dunia…

Read also:
  • No related posts