Sense of crisis
Sense of crisis. Banyak orang tidak memiliki sense of crisis. Saya kaget waktu membaca berita bahwa ada artis sinetron yang berulang tahun dan menghabiskan dana lebih dari 800 juta rupiah!
Saya saja belum pernah merayakan ulang tahun karena saya berpikir untuk apa? Seharusnya kita merenung apa yang telah kita perbuat, lebih banyak kebaikan atau keburukan. Kita juga harus sadar bahwa jatah hidup yang diberikan oleh Tuhan sudah berkurang satu tahun!
Berita ini sangat menusuk hati saya, bukannya iri tetapi menyayangkan. Dalam kondisi bangsa seperti sekarang ini, masih ada orang bermegah-megahan seperti itu. Pejabat pemerintah juga seperti itu, apalagi anak pejabat :(. Konglomerat lebih-lebih lagi.
Budaya gengsi telah merasuki sebagian penduduk negeri ini. Gengsi kalau dianggap miskin padahal memang negeri ini miskin. Kita telah disibukkan untuk bersaing mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, terserah itu diperoleh dengan cara halal atau haram. Anak dan istri kita beri makan dengan harta yang tidak jelas haram atau halalnya. Setelah harta terkumpul sedemikian banyaknya kemudian kita bermegah-megah dengan tidak melihat kondisi sekeliling kita. Banyak orang yang tidak beruntung seperti kita yang memiliki hak untuk ditolong. Di dalam harta kita ada hak mereka. Bila kita tidak memberikannya berarti kita telah memakan harta mereka, ck..ck betapa kejam kita kalau begitu …
Banyak pelajar yang berotak encer tidak dapat meneruskan sekolah atau kuliah karena masalah biaya. Banyak anak-anak telantar yang berkeliaran di jalan-jalan kota padahal anak-anak telantar, fakir miskin dipelihara oleh negara (pasal … aku lupa, UUD 45), banyak juga perbuatan jahat yang dilakukan orang akibat pengangguran dan himpitan ekonomi.
Saya pribadi sebagai orang yang tidak beruntung, merasa kasihan dengan diri sendiri dan orang lain. Walau banyak kekurangan, saya masih bisa bersyukur. Bersyukur bisa dilakukan dengan berbagai cara termasuk membelanjakan harta yang kita punya di jalan yang baik. Bila kita punya ilmu, kita bisa membaginya (share) dengan orang lain. Cara bersyukur yang lain adalah merasa cukup dengan apa yang dimiliki dan tidak menganut paham konsumerisme, apa-apa saja mau dibeli.
Ingat, pertanyaan yang akan diajukan di akhirat nanti adalah:
“Darimana harta yang kamu peroleh dan dibelanjakan untuk apa?”