Makna Kata Abadi: Jangan Cinta Dunia!
Abadi adalah kata yang sering diucapkan oleh orang untuk menyampaikan bahwa sesuatu itu tidak akan musnah, kekal, langgeng, tetap selamanya seperti itu kapan pun dan di mana pun. Banyak istilah seperti “cinta abadi“, “semoga cinta kita abadi“, “selamanya akan selalu bersama”, “hidup yang abadi“, “harta kekayaan yang abadi” (sering diartikan dengan harta yang tidak habis turun-temurun).
Banyak muda-mudi yang menggunakan kata-kata ini untuk “sekedar” menyenangkan hati pasangannya ada pula yang berharap bahwa kenikmatan yang mereka rasakan, entah itu kenikmatan syahwat?, harta, pangkat dan sebagainya tetap mereka rasakan selamanya.
Kadang dengan berpandangan seperti itu, kita seperti orang yang sangat bodoh, amat sangat bodoh malah. Mana ada yang kekal di dunia ini? Sepatutnya kata-kata “abadi”, “kekal”, “selamanya” hanya milik Allah semata. Semua selain Allah akan musnah. Kita selalu tertipu dengan dunia yang semakin hari semakin mempercantik dirinya. Kita selalu terlena dengan kesenangan sesaat di dunia sehingga lupa pada kesenangan “abadi” di kampung akhirat sana.
Tanya dalam hati kita masing-masing. Masih adakah rasa kecendrungan kepada dunia dan isinya? Masihkah kita selalu mengharap sesuatu yang akan musnah selama-lamanya? Masihkah kita selalu berlomba-lomba menggapai sesuatu yang nantinya kita tinggalkan? Masihkan kita menumpuk-numpuk harta yang nantinya jadi rebutan orang lain saat kita tinggalkan? Masihkah kita membangga-banggakan rumah yang megah yang nanti kita tidak huni selamanya? Dan masih banyak lagi..
Coba renungkan. Hati ibarat cermin. Jika di hadapannya sesuatu yang hina, akan tampak terus sesuatu yang hina. Jika di hadapannya sesuatu yang kotor, akan tampak terus sesuatu yang kotor. Tetapi bila di hadapannya adalah sesuatu yang bersih, maka cermin akan menampakkan sesuatu yang bersih.
Dunia ini hina karena Allah sudah menghinakannya. Mengapa kita tetap mencintai sesuatu yang dihinakan oleh Allah? Mengapa waktu/tenaga/air mata/tetes keringat habis hanya untuk mengejar sesuatu yang namanya dunia? Mengapa hati kita –yang ibaratnya– adalah cermin selalu berkaca pada dunia? Coba hitung: Andai jatah umur saya adalah 63 tahun. Saya bersusah payah meraih dunia sampai umur 40 tahun. saya menikmati hasil jerih payah saya dan kenikmatan dunia selama 23 tahun.
Dua puluh tiga tahun! Waktu yang amat sangat sedikit dibandingkan dengan waktu tak terhingga (infinity), dalam istilah matematika adalah disimbolkan dengan simbol ~. Waktu tak terhingga itu ada di akhirat dan tempat kembali kita hanya dua: surga atau neraka.
Sekarang tinggal pilih, menghabiskan waktu yang tak terhingga ini di surga atau di neraka?
Jangan mencintai dunia. Amalkan selalu doa Nabi SAW:
“Ya Allah, jadikanlah rasa cintaku kepada-Mu melebihi rasa cinta kepada harta, keluarga dan air dingin”
Mengapa harta dan keluarga? Karena harta (emas, perak, perdagangan, handphone canggih, mobil mewah, rumah bagus, you named it) dan keluarga (suami/istri, anak,orang tua, kerabat) ada “isi” dunia. Mengapa air dingin? Air adalah sumber kehidupan. Orang haus akan sangat mencintai air dingin, benar bukan?
Kita boleh mencintai suami/istri, anak-anak kita, orang tua kita, harta yang sudah kita usahakan, tapi jangan sampai hati kita cenderung padanya sampai kita berharap, hidup kita ini abadi di dunia sehingga bisa tetap merasakan nikmat dunia…