Another pure XHTML + CSS website from Unilever brand. I “weave” some pieces of PSDs into pages, optimize their document structure and optimize the styles. I didn’t separate the style sheet instead of put in each page respectively. As the are growing, I will convert it progresively using content management system.
Update: I have built CMS [...]

more »

Jangan Jadi Penipu!

Posted on: March 7, 2003
Tags:

Saya sudah terlalu sering ditipu orang. Skill yang kumiliki ternyata tidak membawa keberuntungan padaku, justru sebaliknya, saya dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi tertentu.
Saya pernah mendesain sebuah halaman web dan perjanjiannya, saya terima bersih 2,5 juta rupiah.
Kalau dihitung itu masih kurang karena satu lembar halaman web bisa sampai 250 ribu dan saya membuatnya sampai sekitar 40 halaman lebih dan kalau dihitung bisa sampai 10 juta rupiah. Tapi nggak apa-apa lah itung-itung buat amal dan sekaligus harga promosi supaya siapa tahu dia punya proyek dia bisa percayakan sama saya lagi pula saya buatkan script aja supaya nggak susah membuat halaman webnya. Saya percaya aja sama dia.
Waktu pembayaran dia cuma bayar 1 juta rupiah dan dia bilang, tinggal berapa zayn? Saya berpikir, mungkin dia bayar cicil begini karena belum punya atau bagaimana? Saya berprasangka baik saja, trus saya bilang tinggal satu juta, setengah jutanya (500 ribu) biar nggak usah, itung-itung sedekah (kata hatiku waktu itu).
Tak disangka sampai sekarang dia tidak pernah membayar, walaupun sampai saya interlokal “beliau” agar melunasi hingga beberapa kali, tetap saja sama, dia tidak mau membayar…

Pertama kali saya di-”bodohi” waktu kerja praktek di Jakarta di perusahaan X (disamarkan :)), waktu kerja praktek ada proyek untuk buat halaman web sebuah BUMN khusus bergerak di bidang minyak.
Proyeknya sampai 400 juta lebih. Waktu itu saya diserahkan tugas untuk mendesain halaman web, data-data yang sudah dibuat sebelumnya dan semua data dimasukkan ke dalam database (dulu saya belum tau itu PHP dan MySQL, so saya nggak tau pemrograman cuma desain tok), trus bersama teman yang jago Flash kita buat desainnya. Saya dan “teman sekerja” saya yang juga freelance merupakan ujung tombak proyek. Gagal dan suksesnya proyek tersebut tergantung bagus dan berfungsinya desain yang dibuat. Dan alhamdulillah saat presentasi pada para pimpinan BUMN tersebut, proyek diterima dan kembali bisa dilanjutkan. Saya banyak dipuji sama para kepala divisi di perusahaan X tersebut. Dan setelah saya selesai kerja praktek, saya cuma diberi tiket pesawat pulang (waktu itu harganya 1 juta rupiah lebih)… Kuliahku satu semester terbengkalai akibat kerja praktek tersebut (kerja prakteknya di pertengahan semester). Bayangkan 400 juta dengan 1 juta rupiah…

Ada “teman” yang ingin memperpanjang domain, saya bilang OK saya bisa bantu, saya cuma beritahu alamat dimana seharusnya uang ditransfer dan saya uruskan domainnya, beberapa hari (hampir satu bulan yang sedianya 5 hari) selesai dibuat,
saya tidak tahu mungkin karena sibuknya admin atau memang ada masalah lain (saya berprasangka baik).
Setelah jadi, saya setup semuanya dan saya ajarkan cara membuat email dsb.
Sebelum membeli domain saya tawari dia untuk membayar 240 ribu kepada saya untuk biaya selama satu tahun kalau ada apa-apa dengan domainnya (maklum saya masih harus ke warnet untuk mengurusnya yang nota bene harus mengeluarkan uang)tidak lebih. Bayangkan cuma 240 ribu selama satu tahun artinya cuma 20 ribu per bulan dan itu tidak dibayar!
Saya juga membuatkan demo sekaligus desain untuk halaman webnya (situsnya menampilkan informasi mengenai pendidikan di universitas X). Saya berharap dia bisa membayar uang yang cuma 240 ribu itu dan setelah itu bisa dilanjutkan dengan membuat situs yang utuh. saya bisa kasih harga satu setengah juta saja. Atau kalau dia
keberatan saya bisa kasih satu juta saja lengkap dengan skrip dan “support”-nya. Dia hanya memberikan uang 100 ribu untuk uang transport…

Satu lagi (semoga tidak bosan dibaca). Ada seo
rang “klien” bermaksud membuat sebuah sistem online dengan web based yang melibatkan beberapa unit di seluruh Indonesia. Bisa dibayangkan betapa rumitnya bila orang pertama kali ingin membuat sistem seperti itu. Saya buat satu skrip buat semua unit dan dapat digunakan dengan baik. Cuma masalahnya karena perencanaan kurang matang dan tidak ada koordinasi yang baik antar unit sehingga aplikasi yang dibuat dirombak beberapa kali. Setiap perombakan yang mendasar saya buatkan beberapa versi, mulai dari versi 0.1 sampai 0.5 seperti layaknya web application pada umumnya. Terpaksa harus bolak-balik ke warnet :) dan dalam keadaan darurat pun kalau ada kesalahan harus cepat-cepat ke warnet dan sudah barang tentu keluar duit. Memang setiap bulan saya diberi uang 500 ribu per bulan dan sudah jalan 2 bulan (artinya udah satu juta) itupun habis untuk
pulang balik ke warnet, beli obat kalau lagi sakit dan makanan kecil untuk teman begadang membuat skrip yang kompleks serta sejumlah query yang kompleks. Selama bulan itu kuliah berantakan dan hampir tidak pernah masuk sama sekali
skripsi pun berantakan karena cuma itu yang diurus dan harganya? Cuma satu juta rupiah…
Bayangkan sistem yang kompleks, kalo diitung-hitung skripnya tuh sampe 13.000 baris kode yang dibuat (44 skrip dan masing-masing skrip rata-rata 300 baris) dan pengorbanan yang banyak. Waktu saya kirim email bahwa saya lagi bokek/tidak punya uang untuk memaintain web applicationnya, tidak ada tanggapan sama sekali. Saya berprasangka baik saja, mungkin beliau sibuk dan mungkin pusing.
Saya tahu diri juga karena “beliau” juga banyak berkorban, cuma setelah saya renungkan saya masih bodoh seperti yang lalu-lalu. Seperti keledai yang selalu mengulangi perbuatan yang salah yang sama secara berulang-ulang…

Kesimpulannya:
Berhati-hatilah bila menjadi web desainer atau web programmer. Kita pintar dan tahu teknologi, tetapi orang-orang seperti ini juga tahu bagaimana cara memanfaatkan orang-orang seperti kita. Kita pintar pada satu sisi, tetapi lemah dan tidak tegas pada sisi yang lain. Saya akan jelaskan dengan anekdot postulat sebagai berikut:
Rumus pertama: P = W/t — yang pernah masuk SMU pasti tahu :),
dimana : W = usaha, P = daya (bisa diartikan skill, kemampuan intelektual) dan t = waktu
Rumus kedua: t = Rp, waktu sama dengan uang (rumusnya orang modern dan rakus harta)
Bila rumus pertama dibuat persamaan seperti ini:
t = W/P, dan t disubstitusikan dengan Rp, sehingga
Rp = W/P.
Bila P mendekati limit 0:
Rp = W/0, maka Rp akan menjadi tak terhingga (dapat banyak duit…)
Disini terlihat bahwa dengan memiliki skill yang kurang (P mendekati nol) tetapi memiliki usaha untuk memanfaatkan orang lain yang besar (W besar) dapat menghasilkan uang yang banyak).
Makanya kebanyakan orang yang cuma tau bacot aja yang paling banyak dapat duit. Politisi-politisi kita yang taunya cuma bacot (ngomong) doank atau anggota DPR yang cuma tau ngomong saja tetapi tidur saat bersidang yang membahas nasib rakyat itu yang banyak dapat duit…
Satu lagi, kebanyakan orang Indonesia tidak menghargai ilmu dan karya cipta, terbukti banyaknya pembajakan software yang notabene adalah hak cipta atas kekayaan intelektual (penulis menggunakan KWrite yang berjalan di atas sistem operasi Linux, jadi tidak membajak :)) serta karya yang berguna buat orang lain. Dari sinilah letak rusaknya moral bangsa kita. Kita tiap hari memakai barang curian dan berbangga-bangga dengan kemampuan kita menggunakan barang curian tersebut. Bahkan barang curian itupun kita pakai untuk mencari nafkah, seperti membuka rental dan sebagainya.
Hasilnya? moral kita ambruk dan dosa pun bertumpuk, tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk …

Read also:
  • No related posts

Leave a Comment