Hari Idul Adha: Menyembelih Sifat Kebinatangan Kita dan Rasa Cinta Dunia
Hari ini banyak yang berqurban, sampai dua hari ke depan. Hakikat berqurban sangat dalam dan sarat makna.
Kita dituntut menyembelih sifat kebinatangan kita sehingga mati tiada tersisa. Sifat-sifat binatang ini terutama adalah menuruti hawa nafsu. Saya pribadi menasehati diri sendiri agar tetap seiring dengan qurban kali ini, sifat-sifat binatang dari diri saya terhapus dan hilang untuk selama-lamanya.
Berqurban juga menuntut pengorbanan, harta yang kita cintai kita keluarkan sebagian hanya untuk membeli seekor kambing atau patungan dengan orang lain membeli seekor sapi. Bagi sebagian orang (orang kaya), uang sekitar 700 an ribu sangat rendah nilainya, sekali belanja mungkin hanya satu potong pakaian, satu kali makan di restoran atau sekali tenggak minuman alkohol di lounge atau diskotik. Tapi dengan uang tersebut buat orang yang “mencintai” hartanya akan berqurban dan menjadi investasi yang sangat, sangat, sangat panjang (saya tidak bisa memprediksikan jangka waktu investasi ini, karena hanya Allah saja yang tahu).
Beberapa cerita di email yang saya baca, seorang nenek tua yang tidak pernah menikah, menabung sedikit demi sedikit. Tahukah apa yang dilakukan setelah uangnya cukup? Dia membeli seekor kambing untuk berqurban. Alasannya sederhana:
“Saya mau berbagi dengan orang lain. Saya selama ini mendapatkan daging qurban tapi belum pernah berqurban“. Subhanallah. Orang ini miskin, tapi pernyataan sikapnya membuat kita malu…
Dia ingin sekali naik haji, tapi apa daya dia tidak mampu. Tapi ketahuilah Allah itu Maha Adil dan Allah Maha Mencintai hambanya. Qurbannya akan diganti dengan pahala haji Insya Allah. Dia sudah menjadi haji mabrur sebelum melakukan haji! Dan itu sangat mudah bagi Allah…